Berpulang ke Rumah di Jurang Jero

Sabtu, 10 September 2011. Sebuah tanggal dimana akan diadakan keberangkatan dari murid-murid SMA Santa Ursula BSD angkatan 2011-2012 ke sebuah daerah di Jawa Tengah, tepatnya Wonosari. Diantara ratusan murid yang telah siap ataupun belum siap pergi melaksanakan kegiatan Live In, saya berdiri diantaranya berbekal tas yang mencapai dua kali kapasitas maksimumnya dipunggung, sebuah tas tenteng di sebelah tangan, dan kecemasan, keingintahuan, ketidaksabaran, tercampur dalam hati.
Live In, sebuah kegiatan dimana mereka yang ingin tahu mengenai kehidupan orang-orang di desa dengan cara terjun secara langsung, hidup dan bekerja bersama mereka dengan segala adat, agama, dan kepercayaan setempat. Inilah yang akan saya dan teman-teman seperjuangan saya akan rasakan selama periode 6 hari.
Persiapan-persiapan Live In sudah dilaksanakan di sekolah jauh sebelum pergi ke Wonosari. Pembagian-pembagian pun juga demikian. Kegiatan Live In yang diadakan SMA Santa Ursula BSD, akan dibagi menjadi 4 kelompok sesuai daerah tujuannya, Jurang Jero, Tobong, Gebang, dan Candirejo, dimana Jurang Jero untuk para kaum lelaki, dan Tobong, Gebang, dan Candirejo untuk para perempuan.
Perjalanan memakan waktu sekitar 14 jam dari BSD menuju Wonosari. Perhentian-perhentian dilakukan walaupun di jam-jam subuh. Perjalanan di 4 bus yang melaju dari pagi hingga pagi kembali yang melelahkan, padahal hanya harus duduk manis menunggu tujuan pertama yaitu sebuah gereja di Kelor.
Pemandangan gereja di pagi hari setelah lama berusaha menutup mata di bus dan ditambah dengan perjalanan yang lama yang menimbulkan jetlag, sangat menyegarkan pikiran, dimana suasana gereja yang sangat hening dengan angin yang sepoi menyambut seakan karangan bunga bila pergi ke Bali.
Tak berhenti di sana, perjalanan kembali dilakukan setelah peristirahatan singkat, makan pagi, dan perebutan toilet ke masing-masing tujuan yaitu ke Jurang Jero, Tobong, Gebang, dan Candirejo dengan bentuk sistem transportasi merakyat, truk.
Perjalanan dengan truk, dimana penumpang akan terpaksa berdiri dengan kondisi jalan naik turun, ranting-ranting yang senantiasa senang menyambut wajah mereka yang tak peka, dan beterbangannya topi-topi memang bukanlah hal yang biasa dilakukan orang-orang kota seperti saya.
Melewati kota kecil yang cukup ramai, melewati sawah-sawah kering, melewati bukit-bukit kapur, hingga akhirnya saya dan murid-murid lelaki lainnya sampai di sebuah kapel di daerah Jurang Jero. Para lelaki telah berpisah jauh dengan para perempuan yang memiliki tujuan ke Candirejo, Gebang, dan Tobong.
Sambutan pertama yang saya terima adalah dari seorang ibu berbaju merah muda, kulit sawo, dan senyum binar. Ia menyalami tangan saya dan teman-teman saya lainnya yang baru turun dari truk dengan membawa bawaan yang berat. Sambutan selanjutnya dilaksanakan di dalam kapel berkursi kayu reyot yang kaki-kakinya tidak sama panjang. Disambut oleh local leader Jurang Jero, dan bersama berdoa atas keselamatan dalam perjalanan menuju ke tempat tersebut.
Pembagian rumah dan orang tua baru pun dilaksanakan, nama saya dan teman serumah saya dipanggil ke-2. Disebutkan bahwa rumah saya berjarak 5 kilometer dari kapel tersebut. Pandangan takjub-lah yang ada di raut wajah saya dan teman saya. Rumah tersebut merupakan rumah ibu baru saya di Jurang Jero yang bernama Ibu Warsih. Ternyata ialah ibu yang menyalami saya dan teman-teman saya yang pertama kali.
Saya, teman saya, dan ibu pun segera pergi ke rumahnya yang terletak di seberang sungai. Perjalanan yang perlu ditempuh dengan menuruni tanah berkapur yang cukup curam, melewati sawah-sawah penduduk setempat, menyeberangi sungai kering, dan mendaki untuk mencapai rumah. Dalam perjalanan yang amat menguras keringat, saya bertemu dengan suami ibu yang bernama Bapak Suparno, saya pun kembali mendaki dengan bertukar sedikit cerita mengenai tempat saya dan mereka tinggal.
Sesampainya di sebuah rumah yang terbuat dari kayu-kayu triplek, berlantai semen, dan kamar berpintu spanduk, saya dijamu dengan makan siang sederhana dengan rasa luar biasa. Bersantap sambil berbincang kecil dengan bapak, dengan suasana masih agak canggung, tapi saya tahu itu pasti biasa.
Hari pertama yang hanya berlalu dengan mengitari sekeliling rumah baru saya, melihat pemandangan yang tidak didapat hanya dengan menapakkan kaki keluar dari pintu rumah, bermain ke tetangga yang ternyata saudara ibu saya, berbagi es kelapa, dan pengalaman buang air di WC tembak yang tingginya hanya semeter lebih didepan kandang sapi dan kambing, juga pengalaman mandi dengan turun sawah di kamar mandi terbuka yang hanya ditutupi pagar bambu setinggi pinggang, lalu diakhiri dengan bermalam di kamar baru yang berpintu spanduk Daihatsu, dengan teman saya dan teman baru saya di tempat tidur, kutu.
Hari kedua dimulai dengan menggaruk-garuk secara buas kaki dan tangan saya yang bentol-bentol karena digigiti kutu dan kebingungan saya karena teman sekamar saya yang sama sekali digigit oleh kutu. Hari pun kembali dimulai dengan sarapan dan sesudahnya ikut bekerja dengan bapak ibu membantu kerja bakti membuat jalan. Saya hanya diberi seember air untuk dibawa ke lokasi kerja bakti, sementara ibu membawa sebuah kendi yang penuh dengan air, karena tidak diijinkan membawa lebih dari yang telah saya bawa, terpaksalah saya menonton ibu menggendong kendi dari belakang.
Kerja bakti dilakukan warga setempat dan beberapa teman saya dari sekolah turut serta dalam membantu. Pekerjaan yang dilakukan yaitu memecah batu, menata batu menjadi sebuah dasar jalan, mencampur semen, mengambil pasir, dan menuang semen membentuk jalan. Semua dilakukan dengan sistem estafet agar efisien tenaga, walau begitu tetap saja keringat terjun bebas dari wajah saya. Kerja bakti pun selesai, dan tak disangka kerja bakti yang terasa sangat lama hanya berlangsung hingga jam 10 pagi. Kerja bakti selesai karena kekurangan semen, maka dihentikan dan semua yag berpartisipasi beristirahat minum teh dan makan.
Kembali ke rumah, dan memakan waktu dengan duduk memandangi depan rumah saya yaitu gunung Gambar, yang tak puas-puasnya saya pandangi. Lalu diadakan acara sharing bersama di rumah warga merefleksikan apa yang telah saya dan teman-teman saya rasakan hari itu, kemudian kembali ke rumah masing-masing, dan saya kembali ke kasur bersama makhluk-makhluk kecil penggigit kembali.
Hari ketiga dimulai dengan membantu bapak membersihkan ladangnya yang kering dari pohon-pohon pisang yang membusuk. Batang-batang pohon yang sudah berwarna coklat dan lunak karena getah yang busuk diangkat dengan tangan kosong bersama daun-daunnya yang mengering, dikumpulkan disatu tempat untuk di bakar diatas tanah kering yang sangat tidak stabil, dimana salah berpijak akan beresiko terperosok ke dalam tanah.
Hari tersebut pun saya membantu ibu saya pergi ke warung di seberang jurang, yang merupakan kesempatan bagi saya untuk melihat-lihat daerah setempat. Jalan yang ditempuh sama persis jalan yang saya lalui pada hari pertama, keringat kembali bercucuran hanya untuk membeli bahan makanan dan mengambil rumput untuk makan kambing dan sapi. Sesampai di seberang, saya beristirahat sejenak dan menyaksikan pemilik warung dan 2 teman saya yang ditempatkan di rumah tersebut membuat kue-kue pisang, dan juga saya diajak berbincang oleh seorang nenek yang juga merupakan ibu dari bapak saya dengan bahasa Jawa, sedangkan saya tidak dapat berbahasa Jawa, dan nenek tersebut pun tidak dapat berbahasa Indonesia.
Saya pun kembali menuruni jurang dan mendakinya kembali untuk pulang kerumah. Sesampainya di rumah, kembali saya berkeringat seperti baru saja terguyur hujan dan terpaksa mengaso di depan rumah dan kembali menatapi pemandangan.
Malam pun tiba, saya setelah menjalani refleksi harian bersama teman-teman, berencana untuk mendaki dan melihat pemandangan kota di malam hari. Maka, saya dan yang lainnya mendaki, berbekal senter, jaket, dan sarung. Angin yang sangat kencang, seperti menusuk langsung ke dalam tubuh, menggigil walau sudah memakai jaket dan sarung, tapi pemandangan kelap kelip lampu kota menghangatkan kembali pikiran saya.
Tak lama saya bertahan disana, maka saya dan yang lain kembali pulang setelah puas memandang suasana kota, dan kembali bersama teman seranjang saya yang tiap hari menggerogoti kaki dan tangan saya hingga merah-merah.
Hari keempat dimulai dengan membantu tetangga jauh ibu yang sedang membuat sumur, dengan mengangkat pasir-pasir dari sebelah rumah saya ke lokasi pembuatan sumur, yang cukup jauh. Setelah itu tak banyak yang bisa lakukan selain kembali memandang gunung Gambar bersama ibu dan tetangga saya dan menyeruput teh pecut juga es kelapa.
Malam tiba, dan malam tersebut pun malam terakhir saya berada di Jurang Jero. Malam itu diadakan misa di salah satu rumah warga. Saya tak menyangka akan menggunakan bahasa Jawa, maka saya hanya bisa duduk manis dan mendengar setiap bahasa Jawa yang dibacakan. Lalu, suatu kejutan lagi, bahwa saya dan teman-teman saya diminta untuk sharing pengalaman apa saja yang telah dialami selama disana.
Misa pun berakhir, dan disuguhkan makanan dan minuman oleh pemilik rumah. Perbincangan dalam bahasa Jawa pun terdengar dimana-mana, hingga akhirnya sepi dimana semua orang telah kembali ke rumah masing-masing termasuk saya dan ibu bapak saya.
Hari terakhir di Jurang Jero, saya bersiap-siap pulang, bertukar nomor telepon, dan diantar ke kapel, melewati jalan yang saya tempuh pada hari pertama. Sesampainya disana, saya dan teman-teman melakukan perpisahan dengan keluarganya masing-masing dan kembali naik ke atas truk untuk kembali ke kapel di Kelor.
Saya dengan ibu bapak saya, berpisah cukup lama, kembali berbincang mengenai keluarga, dan orang-orang yang dicintai. Ibu meminta saya untuk tidak melupakannya, dan saya pun tidak mungkin melupaka semua yang telah ibu berikan pada saya selama tinggal di Jurang Jero, dimana ibu dan bapak yang hidup berdua mau menerima seorang anak kota yang belum tahu menahu kehidupan di desa. Saya pun bersalaman tanda berpisah dengan Ibu Warsih, Bapak Suparno, dan Jurang Jero. Kembali dengan truk, sampai di kelor, beristirahat sejenak dan dilanjutkan dengan perjalan jauh menuju BSD dari Wonosari.
Sampai di BSD, dalam keadaan letih, lesu, lunglai, dan tidak bersemangat, karena malam yang panjang kembali dilewati tanpa menutup mata. Dikumpulkan bersama, dan berdoa karena saya dan yang lain sampai dengan selamat di SMA Santa Ursula BSD, lalu kembali ke rumah masing-masing dengan tas yang bertambah karena oleh-oleh yang diberikan ibu bapak.
Walaupun baru saja pulang dari kegiatan Live In yang sangat melelahkan, dengan semangat setengah saya kembali ke sekolah keesokan harinya untuk mengikuti refleksi bersama, dan membuat perencanaan apa yang akan dilakukan untuk membantu warga-warga di Jurang Jero, Candirejo, Tobong, dan Gebang.
Apa yang telah saya alami sangatlah berharga dalam penyadaran diri sebagai manusia dan sangat menginsipirasikan saya dalam sebuah tulisan dan berharap juga dalam sebuah tindakan bagi mereka yang menerima saya dengan tangan terbuka lebar.

“Aku orang kota, yang mencoba menjadi orang desa,
tengah belajar bedanya orang kota dan desa,
sekarang dapat kusatukan dalam kalimat,
membentuk suatu pesan, suatu surat.
Desa, berada di lereng gunung,
dimana mereka naik gunung dengan usaha keras,
untuk mencapai suatu kemapanan di puncak.
Kota, berada di puncak gunung,
dimana mereka mereka bertahan dengan hati-hati,
agar tidak jatuh dari kekayaan yang telah mereka miliki.
Orang kota melemparkan batu-batu dalam berbagai ukuran,
kepada orang desa yang berusaha mendaki.
Yang tumbang dalam usaha mendaki, akan terus mendaki ke surga,
yang tumbang terjatuh dari puncak, akan terus jatuh ke neraka.
Aku orang kota, yang mencoba menjadi orang desa,
penonton yang kian menjadi pelaku...”

Unwilling memories

Fraction of a heart,

Scattered through all minds of a heartless animals,
Humanity...
Not the word I'm searching for,
But a word that'll never reach me,
When I'm still in the depth of an empty mind...

No memories of love,
Only a pain shall roots in my soul,
Never I feel warmth nor cold,
Anger and vengeance are what I shall feel...

Untouched by my own will,
I'm a marionette to a blood-thirsty parasite,
Who fell to the world of greed...
I excavate silver coins to feed his greed,
Giving it with blood stained the shiny coins,
My own fresh blood...
I steal, rob, and murder,
Only wish to serve him to spare my low life...

No chance for me,
To pure my sins...
I just wish to be dead,
And sent to hell rather than standing here to lick the dirt for someone like him,
I need a rest, an eternal rest,
Wielding a dagger, stab myself till I died...
A painful yet happiest day of my life,
I was freed by my own death,
No more blood shall stain my clothes,
I'll just give it all away to earth,
And slumber under the warm soil,
And grew to a tree to bares fruit of rebirth,
And cast away my unwilling memories...

I disappoint my brother

It was today, a funny feeling fills my mind,

A feeling that today going to happen something horrible,
That uncomfortable feeling eating me up,
Am I forgot something?
Did I do something stupid?
That feeling clash into a scenery,
An image that cannot be thrown away from my memory,
A group of teacher comes in without permission,
They told my class, it's going to be a check up,
My fear started to began,
I brought my belonging that doesn't belong to me, but also to my brother,
It was a stupid thing I brought it in class,
I am stupid, selfish, I'm such an idiot,
When a teacher coming near my bag,
It was found and taken such in a second,
My little heart trembles in a image came across me,
An image where my brother cries tear of disappointment,
It was taken away, and there's nothing to do about it anymore,
I'm in a corner where there is only regrets,
I regret I broke the law,
I'm stubborn, foolish, and idiot,
I let my brother down,
When I got home,
There's no other option to choose,
I must speak the truth in such a fragile unstable heart of a little boy,
When I spoken the words,
His face turn red, tears glowing from his eyes,
And cries yelled out,
Such a painful thing, to see a sibling cries because your own stupidity,
I wish I can undo today,
I wish I can turn back time,
I wish I'm not a moron,
No turning back, it already spoken,
I cannot take back my heartbreaking words,
I just can't bare it anymore,
The guilt growing inside me,
And I'm still in a deep confusion,
The 'thing' that was taken,
'It' can slow my brothers movement in education,
But 'it' can also, fills his days,
Am I doing the right thing?
Or just plain selfish?
I can't bare this,
I already have a tons of problems right now,
But, it still coming to me,
What can I do now?
I... I'm confused...

I need to live

Yesterday, I feel the despair in living,

But, thank god it's over,
I see it now, that I do not need to fear or hesitate,
My desperation was a putrid thing that can get you down,
What a relieve that I was pured from my blindness,
I patronized life, it was foolish of me,
A vestige of my heart still pushing me towards the light,
When my mind was gulped by the shadow of emptiness,
It was a fallacy, no faith, false belief,
I was vulnerable to be contain by wretch,
I was trapped in a kennel, with no way to improve, as I am just a mere dog,
Loyal to the masters, do not think that I am no servant,
When I mourn myself, I am not vigilant,
That I am wasting my time, for something that was just nothing important,
I must vindicate things now,
I must get out from the void where I was held back,
I need to salvage myself,
I need to hurtle,
I need to move towards my hopes and dreams,
Where there I can live,
Someday, I need to reach it,
With my own hand, mind, and heart,
I need to live...

A first post in my new blog

Setelah beberapa saat sibuk membuat blog terbaru,

Gw kembali ke dunia blog, setelah blog sebelumnya merupakan seonggok sampah web,
Dengan blog ini, gw bakal tulis karya-karya tulis gw, feeling gw, and kegiatan gw...
Jadi ga bakalan kaya dulu lagi, gw bakal kasih sentuhan dikit2 banyak bhs Inggris,
Sekalian mengembangkan kemampuan bahasa gw,
Dan topik pertama gw di blog baru ini,


Desperation...

A desperation can come when ever it desires,
It crawling towards me last night,
It make my sour memory came back to me,
Desperation can come from things you read, you see, and you do,
When it get you, it's like everything collapsed,
All the spirit to live, scattered into pieces,
Don't know why, don't know how, don't know anything else to do,
This thing happen last night, when I prepare my big test today,
It suddenly just appear in my mind, makes me remember my memory,
It's not beautiful, it was worse than anything you can imagine,
I may be exaggerating, but it was what I felt that night,
Having a chat with a friend, it still makes me wonder,
How I can change this?
I cannot live like this, I cannot survive like this,
I need a saviour,
A saviour who will perish the desperation in me...
I need it more than I need my own life right now...


Post pertama gw emang rada bikin gw keliatan kaya org ga ad semangat idup,
Tapi itulah yg gw rasain kemaren,
Usai sudah post pertama gw,
Semoga beda dari yg dulu, thx...